“Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar.”
- Wikipedia
Seingat saya, buku pertama yang saya baca untuk mengisi waktu luang ketika masih kecil dulu (kurang lebih kelas 3 atau 4) adalah komik. Tepatnya adalah komik Shinchan, karakter bocah yang terkenal dari Jepang. Sebenarnya komik ini diberikan oleh salah satu tante saya untuk adik saya yang waktu itu sedang rawat inap di rumah sakit akibat gejala tifus. Awalnya saya tidak ada ketertarikan spesial untuk membaca, tapi berhubung bosan menemani adik, mulailah saya membuka komik itu. Ya, walaupun sekedar lihat-lihat gambar.
Nah, sedikit cerita di atas tadi tentang perkenalan saya dengan buku di luar jam pelajaran sekolah. Jujur, dulu saya bukanlah tipikal anak yang suka berdiam diri lama-lama untuk membaca. Biasanya waktu luang saya habiskan untuk bermain di luar, seperti kebanyakan anak kecil lainnya atau duduk anteng seharian bermain playstation. Wah, kalau sudah bertemu dengan barang yang satu ini dunia bagaikan milik kita berdua, hanya saya dan PS (halah). Bahkan kalau berebut PS dengan adik atau kakak , bisa jadi tempat tidur serupa ring Smackdown. Orangtua saya pun (sepertinya) belum termasuk orang yang bisa dikategorikan ‘suka baca buku’, kecuali bapak saya. Bapak saya demen banget sama yang namanya baca koran, tapi tidak terlalu dengan buku. Alkisah, waktu itu bapak saya membeli beberapa buah novel. Sejauh pengamatan saya, jarang sekali beliau membaca novel tersebut. Mungkin hanya satu atau dua kali. Kemudian terjadi percakapan seperti ini:
“Pa, kok novelnya ga dibaca sih?”
“Udah kok, udah selesai malah.”
“Hah?! Udah selesai? Tapi kayaknya Nadia jarang liat Papa bacanya deh.”
“Yah, kalau Papa mah ga usah baca satu buku. Baca awalan sama akhirannya aja Papa udah ngerti kok jalan ceritanya.”
And it was just like, LOL! seriously, Dad? You kidding me? Yap! Bapak saya memang orang paling ajaib dari ujung Kelapa Gading sampai ujung satunya lagi.
Ketertarikan untuk membaca yang sebenarnya pun muncul ketika saya kelas 6. Tepatnya setelah beberapa hari setelah kelulusan. Loh, kok begitu? Iya, memang begitu. Karena ketika ingin masuk ke SMP dulu, saya sudah memotivasi diri untuk berubah menjadi lebih baik, menjadi remaja yang hebat. Alhasil, saya mencari referensi buku pengembangan diri untuk remaja. Buku yang saya baca waktu itu adalah ‘Being a Happy Teenanger’ yang ditulis oleh Andrew Matthews. Buku ini pun sukses menjadi mesin untuk memotivasi diri saya kala itu. Berawal dari hal tersebut saya mulai menyukai baca buku. Saya mulai membentuk habits baru, yaitu pergi ke toko buku dan membaca buku-buku seri pengetahuan atau komik-komik pengetahuan. Oh ya, dari habits baru itulah saya juga tahu kalau saya tidak terlalu cocok untuk membaca komik. Bikin pening dan bingung. Aneh ya? Tapi serius!
Habits baru itu pun semakin solid ketika memasuki dunia SMP. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang gemar membaca. Yang setiap hari Jumat-nya dihabisan nongkrong berjam-jam di Gramedia. Kami juga gemar membahas penulis-penulis inspiratif. Dari situlah napsuku untuk membaca semakin bergairah. Haturnuhun loh kawan-kawan untuk virus membacanya!
Perlahan-lahan saya mulai menyadari akan manfaat membaca. Banyak, sungguh banyak. Pantaslah di dalam Al-quran sendiri Allah sering mengingatkan kita untuk iqra, iqra dan iqra! atau membaca. Selain menambah wawasan, banyak waktu saya sangat terkesima dengan kemampuan otak menciptakan visualisasi atas apa yang saya baca. Bahkan terkadang visualisasi yang diciptakan di dalam kepala kita ini lebih WOW! dari yang sebenarnya. Dengan membaca otakpun layaknya mesin, dipanaskan. Sederhana tapi menyenangkan. Read that book, it cures your soul. Ya, tapi namanya juga manusia, suka bosan. Tidak dapat dipungkiri kalau terkadang saya juga merasa jenuh untuk membaca, contohnya: *ehem* buku pelajaran. Tetapi saya mulai untuk menikmati membaca buku pelajaran, senikmat ketika membaca novel. Saya yakin, kalau hal ini terus dibiasakan cepat atau lambat kenikmatan membaca buku pelajaran pun akan tumbuh, insyallah.